Yuk Berlatih Menjadi Orangtua yang Matang Emosi….

By : Indah Hendrasari

Hari gini kalau kita baca berita banyak banget kita temui emak-emak ababil (abege labil) yang emosinya meletap meletup ga karuan, bawaannya baper dan paper aja, bayangin aja ada emak tega guyurin air satu bak sampai anak menjerit-jerit hanya karena alasan tidak punya uang, kenapa emak yang tidak punya uang, anak menjadi sasaran? Walau memang pemicunya adalah anak memerlukan uang. Namun sebegitukah ekspresi emosi yang perlu dikeluarkan. Sementara ada emak yang bisa dengan tenang menjelaskan kondisi bahwa orangtua sedang kesulitan keuangan pada anak, dan anak memahami hal tersebut. 

Semua ahli setuju bahwa kematangan emosi adalah salah satu faktor yang berpengaruh besar terhadap kesuksessan seseorang, karena itu para ahli pendidikan usia dini sangat menekankan pentingnya sub bidang ini sebagai pelajaran wajib yang harus diberikan. Ini memang rentetan panjang kenapa ada emak yang pendek sumbu apinya, ada yang panjang sumbunya, ada yang dengan mudahnya meledak-ledak terus menyesal ga ketulungan, ada yang bawaannya woles aja dsb, jika dikaji lebih dalam maka akan bermuara ke satu hal yaitu KONSEP DIRI… dan ini dibentuk dari pola komunikasi dalam keluarga dan lingkungannya. (baca tulisan sebelumnya ya mengenai konsep diri dan komunikasi dalam parenting ) Jadi gimana dong nasib kami yang merasa emosinya masih setengah matang ato masih ayem-ayem? Jangan khawatir ada kabar baik… (*ting sales modeon)…

“Menurut para ahli bahwa emosi bisa dilatih untuk menjadi matang”

Baik sebelum kita masuk ke fase latihan ada baiknya kita kenalan dulu apaan sih produk yang namanya emosi?
Emosi berasal dari kata “mervee” merupakan kata kerja dari bahasa latin yang berarti “menggerakkan/bergerak”, ditambah awalan e- untuk memberi arti “bergerak atau menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Dengan kata lain emosi merupakan perasaan yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan. Para ahli psikologi menyatakan bahwa antara emosi dan tingkah laku saling berkaitan. Kerena dalam emosi terdapat tiga komponen yaitu :

  1. Komponen Fisiologis
    Emosi adalah reaksi tubuh menghadapi situasi spesifik. Jika sedih, biasanya orang menangis. Pada saat seseorang marah ia akan merasakan denyut jantungnya lebih dekat dengan tubuhnya terasa tegang.
  2. Komponen Subyektif
    Emosi adalah proses persepsi terhadap situasi. Jika memandang umpatan dan ejekan kawan misalnya adalah meremehkan dan menghina kemampuannya maka ia merasa harga dirinya direndahkan dan ia menjadi marah. Tetapi bila menganggap umpatan dan ejekan itu sebagai taktik untuk menjatuhkan mentalnya, maka ia akan santai dan tetap konsentrasi. Emosi juga merupakan proses berfikir.
  3. Komponen Perilaku
    Emosi juga berkaitan dengan perubahan perilaku, seperti munculnya ucapan-ucapan, gerak-gerik tubuh, ekspresi wajah dan tingkah laku.

Menurut Patton (1997), emosi merupakan suatu kekuatan yang bisa berpengaruh positif maupun negatif. Kekuatan emosi mempunyai nilai positif seperti dalam memberi semangat, motivasi, optimisme, bangga puas dan sebagainya. Dengan kekuatan perasaan tersebut maka dapat berhasil dalam menyelesaikan tugas. Sebaliknya emosi juga bisa berpengaruh negatif, misalnya karena tidak dapat mengendalikan rasa marah dan jengkel, maka anak jadi sasaran sewot, guru jadi pelampiasan kesalahannya dsb.

Bagaimana agar emosi bisa memberi kekuatan yang positif bagi kita ? Kata Plato, emosi itu memang harus dijaga. Sehingga kekuatannya dapat dimanfaatkan ke arah yang positif. Emosi yang terkendali, merupakan kunci menuju keadaan kesejahteraan emosi individu maupun kesejahteraan emosi social. Jadi emosi itu ga melulu negatif ya… ada yang positif juga, jadi stop bilang “ih emosian banget jadi orang” untuk menyatakan bahwa orang itu bermuatan emosi negatif, karena orang yang selalu riang gembira dan tersenyum selalu juga merupakan orang yang emosian 🙂

Udah faham tentang emosi, sekarang yuk kita berlatih…

Pertama yang perlu dilatih adalah mengenali macam emosi, mengenali penyebabnya dan memilih ekpresi emosi

  1. Mengenali Emosi
    Emosi itu banyak macamnya. Setiap emosi memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikannya. Begitu pula setiap emosi memiliki cara sendiri-sendiri untuk mengatasinya. Bagaimana kita bisa mengekspresikan dengan tepat, dan mengatasinya jika kita tidak tahu persis emosi apa yang kita rasakan. Berkecamuk bermacam rasa tanpa kita mengenalinya hanya akan mencipta galau yang tidak jelas. Sedih? Marah? Kecewa? Kenali dengan benar. Semakin kita terlatih mengenali emosi kita, maka kita akan semakin peka mengenali kondisi emosi orang lain, termasuk pasangan dan anak-anak kita. Oo suamiku marah-marah (ekspresinya) itu karena sedang bingung bagaimana menambah penghasilan rumah tangga. Bukan karena marah pada diri kita, misalnya.
  2. Kenali Penyebab Emosi secara Spesifik bukan Sekedar Menyalahkan Orang Lain
    Seperti : “Suamiku selalu saja membuatku marah”, “Anak-anak membuatku pusing”, “Sekolah ini ga mengerti kesibukan orangtua” , “Mertuaku membuatku bingung”
    Ini adalah kondisi menyalahkan orang lain. Menjadikan orang lain sebagai subyek permasalahan, akan membuat kita kesulitan menyelesaikan emosi karena subyek permasalahan di luar kendali kita. Sulit kan mengendalikan orang lain? Permasalahan-permasalahan yang bisa kita selesaikan adalah permasalahan yang ada dalam kendali kita. Maka penting untuk meletakkan siapa yang menjadi subyek permasalahan. Lebih mudah untuk fokus pada diri sendiri daripada fokus pada orang lain. Lebih mudah merubah diri sendiri daripada merubah orang lain.Mengenali penyebab emosi secara spesifik seperti ini :
    “Saya sedih jika saat pulang kerja suami marah-marah karena rumah berantakan. Karena saya merasa sudah berusaha membereskannya,”
    “Saya sedih ketika saat tidak punya uang, anak meminta uang. Ada perasaan bersalah tidak bisa membahagiakan mereka”

Ketika kita mampu mengenali penyebab emosi secara spesifik maka kita mampu meletakkan diri kita sebagai subyek, artinya permasalahan ada dalam kendali kita, dan mengenali secara jelas dan spesifik kondisi yang menciptakan emosi muncul pada diri kita. Ketika kita bersikap menerima emosi dan meletakkan sumber emosi ini pada diri kita, maka kita akan memiliki kendali untuk mengatasinya. Paling tidak untuk memiliki kemudahan untuk mengkomunikasikannya pada orang lain. Dan ingat untuk bisa berhasil ditahap pertama ini yang paling dasar harus di lakukan adalah membenahi KONSEP DIRI sebagai orangtua dulu, baru lakukan latihan ini, metode latihannya bisa macam-macam tergantung modlaitas belajar kita, cari yang menurut kita caranya mudah dan menyenangkan. Kedua semakin berlatih kita akan sampai pada kematangan emosi berupa mampu memiliki kendali emosi dan mengekspresikannya dengan tepat (tahap pengendalian emosi). Ditahap ini kita akan mengetahui apa dibalik emosi dan cara mengatasinya. Hingga kita dapat bersikap tenang dan berfikir sebelum bertindak, dapat melihat situasi dengan pandangan yang lebih positif, mempunyai banyak cara untuk meredakan emosi. Pengendalian emosi, bukan berarti hanya meredam rasa tertekan atau menahan gejolak emosi, akan tetapi juga bisa berarti dengan sengaja menghayati suatu emosi, termasuk yang tidak menyenangkan. Pengendalian emosi tidak sama dengan pengendalian berlebihan, yaitu penyangkalan semua perasaan dan spontanitas. Bahkan kendali diri yang berlebihan dapat mendatangkan kerugian bagi fisik maupun mental. Orang yang mematikan perasaan negatif yang kuat dapat menyebabkan meningkatnya denyut jantung, sekaligus naiknya tekanan darah. Apabila penekanan emosi seperti ini menjadi kronis, kemampuan berfikir menjadi rusak, hingga terganggunya hubungan sosial. Karena itu penting untuk kita sering berlatih tahap pertama tadi hingga bisa tercapai pengendalian emosi dengan baik. Seperti contoh berikut ini

“Saya sedih ketika tidak memiliki uang, anak meminta uang. Maka saya merasa perlu menjelaskan pada anak saya kondisi keuangan yang ada dengan bahasa yang dia mengerti lalu akan membuatkan celengan untuk anak agar ia bisa menabung untuk memenuhi keinginannya”
“Saya sedih kalau suami pulang marah-marah karena rumah berantakan. Maka saya akan berusaha mengajak anak-anak untuk bekerjasama merapikan rumah sebelum Ayahnya pulang”

Ketiga, dengan kematangan emosi lama kelamaan kita mampu memilih emosi dan ekspresi yang tepat.
“Saya memilih untuk merasa senang dan bahagia, saat harus di rumah karena mengasuh anak saya. Walau tidak bisa mengikuti training-training yang saya impikan itu. Karena mengasuh anak adalah sumber kebahagiaan yang saya impikan juga.
“Saya memilih untuk bersyukur akan semua nikmat yang diberikan, karena bersedih saat mengingat keinginan yang belum terwujud membuat hidup menjadi tidak produktif.
“Saya sedih saat anak meminta uang padahal saya tidak punya uang. Cukup saya memeluknya dan menjelaskan kondisinya. Kalau mengguyurnya dengan air itu berlebihan kan, dan tidak berhubungan dengan permasalahan. Kasihan anak. Namun karena saya kurang punya kendali. Kalau saya sudah merasa akan melukai anak, saya akan ajak anak keluar rumah, karena dengan keluar rumah, mengajaknya jalan-jalan, saya akan merasa terawasi oleh lingkungan, tidak berani berbuat yang sampai melukai.”

Mari kita sering berlatih hingga menjadi kita memiliki kematangan emosi yang layak menjadi orangtua, hingga anak-anak kita pun bisa belajar serta meniru dari kita bagaimana menjadi manusia yang matang emosinya biidznillah insya ALLAH

Wa allahu a’lam bishowab

#onedayonepost
#100thdayschallenge
#dayfour
#Myhomeparenting
#AMU_Alummu_Almadrosatul_Ula

Leave a Reply

Close Menu