Uang Jatuh dari Langit

“Uang Jatuh dari Langit”

Pengasuhan Keuangan vol.9
By Indah Hendrasari

Makk udah biasakan ya dengan istilah uang jajan, pan dari zaman baheula kita taunya asal duit itu cuma dari uang jajan, taunya bahwa hal yang menyenangkan dari orang tua kita adalah saat dapet uang jajan, 
Ayo ngaku siapa yang ngerasa gitu?…. πŸ˜…
Saya enggak lho ya, kan saya anak sholehah yang baik hati heheheβ€¦πŸ˜Ž
Suka mikir ga mak, kenapa ya fenomena uang jajan ini sangat melekat dalam pengasuhan keluarga, entah darimana ide ini ada, seakan sebuah kewajiban orang tua yang harus di penuhi kepada anak, hingga terjadi arus penuntutan anak kepada orang tua agar memberikan uang jajan yang banyak kepada anak. Tak ayal jumlah uang jajan kepada anak, sering diidentikkan dengan martabat orang tua, anggapan semakin besar uang jajan anak, maka makin tinggilah martabat orang tua….πŸ€”
Aduhhhh cukup menyeramkan ye mak gejala ini, udah kayak penyakit kronis yang susah disembuhkan, maka tak usah heran, prilaku suka jajan sangat begitu kental dalam kehidupan masyarakat kita. Coba aja mak tengok di kehidupan anak –anak kita kini, ga usah jauh – jauh deh mak, datang aja ke sebuah SD terdekat rumah emak atau pantengin sekolah anak emak, pagi hari sebelum pelajaran dimulai, apa coba mak kegiatan para anak – anak itu? belajarkah atau berkumpul di lokasi jajan?😐
Saat bel istirahat berbunyi, kemana coba mak para anak – anak itu pergi ? Ke musholla buat sholat dhuha? Ke perpustakaan buat nambah pinter? atau ke kantin buat habisin duit?😯
hehehe saya yakin emak mulai meringis gimana gitu, tapi emang gitu kan ye mak, soalnya dulu kelakuan saya juga gitu mak, masih seger banget neh mak ingetan saya, gimana kelakuan saya dulu gampang banget saya ngabisin berapapun uang yang saya punya, jika uang dikasih orang tua habis, maka saya akan mengulik uang tabungan hasil pemberian nenek, kakek, om tante atau kerabat lainnya πŸ™ˆπŸ™ˆ
Waaahh apakah emak samaan nasibnya sama saya ?….
Ngapa yak kita gampang aja ngabisin uang buat belanja, kadang juga ga paham banget alasan belanjanya, syukurnya saya udah tobat hahahah. Kalo dipikir kenapa ya kita gampang banget jajan? bahkan sampean shopping itu di identikkan dengan fitrahnya wanita, makanya ga heran kan mak kalo sampai dewasa ini para emak selalu di sasar menjadi komoditas pasar konsumtif yang potensial. Ternyata mak, salah satu penyebabnya adalah kebiasaan jelek yang diturunkan selama turun temurun, hingga melahirkan VALUE bahwa UANG itu JATUH DARI LANGIT, begitu mudahnya seorang anak yang polos, bebas menghabiskan uang yang tak pernah dihasilkannya… πŸ˜«
Tak faham bagaimana uang itu bisa datang, seperti apa sifat uang itu, kenapa harus menggunakan uang, hal – hal ini tak pernah di tanamkan kedalam benak anak, hingga saat mereka dewasa, saat uang itu begitu mudah mereka habiskan, tak cukup uang gaji, maka pinjaman menjadi andelan, tak sanggup membayar cicilan, maka orangtua menjadi back up, mulailah harta orang tua dilirik, begitu seterusnya,

NGERI ya ternyata jadinya, hanya dari sebuah kebiasaan sepele yang dianggap biasa.

————————————
Suatu hari ada seorang emak cerita sama saya, kalo beliau menjanjikan satu unit laptop kepada anaknya yang berusia 10 tahun, jika berhasil menyelesaikan sebuah cerpen, ketika saya tanya apa tujuannya memberikan hadiah mahal begitu hanya untuk sebuah cerpen? Enak itu menjawab untuk memotivasi anaknya agar kemampuan menulisnya menjadi baik, dan target menyelesaikan tulisannya tercapai, juga agar anak punya laptop sendiri, hingga makin semangat menulis. Kesannya ibu ini sangat mensupport anaknya, saya juga yakin bahwa emak juga setuju dengan ibu tersebut, bahwa wajar satu unit laptop untuk anak usia 10 tahun, lagian kan laptop memang di butuhkan anak tersebut menulis, jadi makin meyakinkan keputusan tersebut.
Tapi tahukah emak, jika saya nyatakan bahwa ibu itu sedang menjadikan anaknya korban diskonan?.

Ahhhh yang benerrrrr?
Masak seeehhh segitunya?
Okelah mari kita ulik bersama ya….
Pernahkah emak berpikir kenapa orang sangat tergiur dengan barang diskonan, meski seringnya barang itu tak dibutuhkan? Yaah jawabannya tentu KARENA MENGUNTUNGKAN, tetapi benarkah menguntungkan? sayangnya belum tentu, sering kali banyak orang yang menyesal ketika sampai dirumah membelinya, karena baru menyadari barang itu belum dibutuhkan, bahkan sama sekali tak pernah dibutuhkannya. Mental mau untung doang inilah mental orang korban diskonan, kalo kata Robert T kiyosaki, mental orang miskin, karena tak punya faktor kali. Tipe orang yang at leaster alias seadanya, kalo melakukan sesuatu yang penting ngerjain, ga punya gairah memberi lebih apalagi yang terbaik, hasil karyanya bergantung mood, sukanya dilayani, gampang baperan, stagnan karena hidup hanya untuk hari ini aja.

Enak mulai bisa meraba hubungannya?

Ya karena saat mereka kecil dahulu, mendapatkan apresiasi yang tidak tepat, sikap ibu yang mau menghadiahkan laptop, sebuah barang cukup mahal hanya untuk sebuah cerpen saja, lain halnya jika memang harga pasaran sebuah cerpen itu seharga laptop, mungkin tak masalah, Gitu juga kalau kita ingin menghadiahkan anak kita mobil atawa motor kalau dia bisa lulus SMP atau SMA dengan nilai terbaik, waduh ini beneran parrah, apa hubungannya kendaraan dengan lulus terbaik??
JIka jawabannya agar semangat belajar, maka saya tanya, anak semangat belajar itu kebutuhan anak atau keinginan orangtua?
Lulus sekolah itu kebutuhan anak atau orang tua?
Kalo emak jawabnya untuk kebutuhan anak maka lulus dengan nilai terbaik adalah kewajibannya. Saat emak menjadikan kebutuhan anak, menjadi kebutuhan emak, disitulah masalah muncul. Anak akan kehilangan sense dirinya, motivasi dirinya rendah, hingga menjadi manusia rapuh yang gampang tergiur hidup instans, penipuan dengan iming-iming. Dengan ini saya rasa emak mulai faham, kenapa ada orang yang bisa tertipu FAST TRAVEL, sebuah travel yang menyediakan perjalanan dengan menggunakan sistem ponzi atau kenapa ada orang yang tertipu dalam kasus penggandaan uang Taat Pribadi, dsb
Bagaimana dengan emak? apakah emak juga korban diskonan? masihkah emak melakukan hal yang sama kepada anak emak?
Terus harus gimana dunk ;
1. Anak Harus Mendapatkan Pengasuhan Keuangan yang Tepat
Dalam pengasuhan keuangan itu ada tahapan usianya, seperti ;

  • Fase balita mengenal uang itu dengan bermain langsung, ada banyak ragam permainan yang bisa di terapkan pada anak agar paham apa itu uang, gimana kelakuannya.
  • Begitu anak beranjak usia 6 tahun maka anak mulai mendapatkan manajemen keuangan,
  • Usia 8 tahun anak belajar menghasilkan uang sendiri, menyisihkan untuk dana pendidikannya,
  • Usia 13 tahun mempersiapkan pernikahannya, berinvestasi,
  • 18 tahun membeli rumah dsb

2. Stop deh mak ngasih uang jajan sama anak, mending terapkan pengelolaan uang saku, lebih terarah, terukur
Karena tau ga mak uang jajan bisa berdampak ;

  • Anak berpikir orang tua selalu ada uang
  • Kehilangan daya juang untuk mendapatkan sesuatu
  • Anak lebih pinter ngasih alasan untuk dapetin uang daripada ngatur uang
  • Anak akan nganggep bahwa uang itu wujud kasih sayang, jadi kalau suatu saat ortu susah n ga bisa ngasih duit, anak akan mikir ortu ga sayang lagi, atau ga perduli lagi
  • Ortu kehilangan control atas jumlah uang yang udah dikasih ke anaknya

3. Fasilitasi anak untuk mengelola kesusahan dalam proses hidupnya
Maksudnya bukan nyuruh anak hidup menderita tapi anak memenej ketidaknyaman dalam dirinya, contoh anak yang sedang berlatih menulis cerpen tadi, ga perlu dijanjikan hadiah apa – apa cukup support ia dengan membantunya agar cerpennya layak muat, misalnya dengan mencari kan mentor menulis untuk anaknya, nah pas dalam menjalani pelatihan dengan mentor gitu, biasanya ada masa anak merasa kewalahan membagi tugas sekolah, mengejar target tulisannya, yang sering terjadi anak jadi milih males untuk lanjut les lagi sama mentornya, maka yang harus emak lakukan adalah fasilitasi kesusahannya ini dengan terus mensupportnya, bisa dengan menjadi kawan curhatnya, yang intinya emak bantuin anak melewati masa membosankan serta melelahkan ini sampai target tulisan layak muat itu tercapai.

4. Berikan apresiasi sewajarnya
Ketika anak berbuat baik atau kurang baik, berprestasi atau sedang malas, maka berikan apresiasi sewajarnya, jika emak biasa ngomel maka berikan omelan dengan cinta karena nyinyir dilandasi cinta bisa membentuk akhlaq mulia, tapi nyinyir dengan amarah bisa menorehkan luka. ga perlu pake mukul atau melotot – melotot, gitu juga kalau mau kasih perhatian, senyum manis atau usapan sayang cukup tanpa perlu menjanjikan hadiah mahal, makanya perlu tujuan pengasuhan yang jelas mak, biar tau apresasi apa yang pas di berikan ke anak. Sebenarnya mak, masih banyak yang bisa emak kasih cuman mak bisa panjang kali lebar bahasan kita, lain kali ajalah ye mak kita bahas nya.

Makasih mak, masih terus baca sampe habis, terus pantengin tulisan saya yang lainnya ya mak, mohon maaf ye mak kalau ada salah – salah kata atau ada yang kurang berkenan, beneran deh mak ga maksud, buat yang copas silahkan aja mak, tapi cantumin nama saya ya mak, bagusnya lagi seh mak, kalo emak pada ngeshare.

****

Emaks yang mau baca serie lainnya, biar ga ketinggalan tulisan maupun videonya ataupun diskusinya bisa gabung di grup FESTRO (Forum Emak Setrong) sebuah forum diskusi untuk gerakan KELUARGA SADAR PENGASUHAN KEUANGAN

Serie Pengasuhan Keuangan Vol.9
by ; Indah Hendrasari
#FESTRO
#Mandirifinansial
#Pengasuhan_Keuangan

Leave a Reply

Close Menu