Pengasuhan Keuangan untuk Balita

Balita Belajar Finansial

Serie Pengasuhan keuangan Vol. 5
by ; Indah Hendrasari

Banyak banget inbox masuk ke saya nanyain gimana ya caranya ngajarin anak mandiri finansial usia balita. Jujur maak saya seneng banget bacanya, serasa mulai ada gejolak emaks sadar akan pengasuhan keuangan, pas deh mak sesuai dengan mimpi saya yaitu melahirkan sejuta keluarga sadar pengasuhan keuangan. 
Ok maak, yuuk lah kita cuzz, kupas tahapan apa aja untuk pembelajaran balita ini….

1. Uang itu untuk membeli sesuatu bukan untuk dimakan

Mak, kita kan memang udah faham banget tuh kalo nyang namanya balita suka banget masukin apa aja kemulutnya. Makanya mak dalam pengasuhan keuangan yang pertama kali kita ajarin adalah, uang itu barang berharga, bisa membeli sesuatu tapi ga boleh dimakan. Ini bisa sambil main mak, juga sambil sounding, oia mak ini dilakukan saat anak masih 1 tahun ya maak. Permainan seperti jual beli bisa menjelaskan tentang ini mak, inget ga mak, dari kita kecil juga udah diajarin sama emak kite dulu, kalo di keluarga saya namanya main jualan2an. Jadi kita pura2 jual barang, terus anak kita beli dan bayar, begitupun sebaliknya. Nah saat main ini kalo anak mau masukkan ke dalam mulutnya uang mainan tersebut, bisa kita katakan mak “ uangnya bukan buat dimakan ya dek, tapi buat beli aja”. Dengan begitu konsep pertama ini dengan mudah nempel dikepalanya maak. Main aja sering – sering mak, yang namanya anak balita mah, kagak ada bosannya main beginian, secara main memang hobinya.

2. Semua orang membutuhkan uang untuk bisa membeli sesuatu

Mak, pas anak kita berusia 2,5 tahun udah bisa deh tuh mak, anak kita kenalkan konsep selanjutnya ini maak.
Gimana caranya ????.
Tenang mak, caranya anak balita itu masih asik – asik kok mak, karena dilakukan dengan bermain atawa terlibat langsung. Kan biasanya ya mak, anak umur batita suka banget main kulkas, nah dari pada dia main kulkas ga jelas, mending kita ajak mak dia terlibat dalam pengasuhan keuangan. Ketika isi kulkas sudah mulai menipis mak, ajak balita kita untuk melist barang – barang apa saja yang sudah habis, biasanya mak, karena suka buka kulkas, balita jadi hapal apa aja barang yang suka ada di kulkas. Kasih anak kertas dan alat tulis (bisa krayon, pensil atawa pulpen tergantung motorik halusnya sudah bisa yang mana), terus minta mereka menulis (walaupun Cuma uwel2) apa aja yang mau di beli seperti telor, susu, kecap, sayur, tomat dsb. Kemudian ajak anak berbelanja ke warung atawa kedai atau mini mart, biarkan anak mengambil barangnya, memasukkan kedalam keranjang belanja, serta membayarnya, disitu balita akan akan belajar bahwa kita butuh uang untuk membeli sesuatu dan juga anak belajar transaksi keuangan. Bisa juga mak ditambah dengan dongeng tentang ini, bisa emak karang sendiri atau cari buku ceritanya mak. Nah nanti mak di usia 3 tahun udah bisa di ajarin manajemen uang saku (baca tulisan saya tentang ini ya mak).

3. Uang itu didapatkan dengan bekerja
Maak anak sejak usia 3 tahun udah bisa deh tuh mak diajakin tur profesi, biar anak tau bahwa banyak banget profesi di dunia ini, kasih tau mak tugas – tugasnya apaan, ngapain aja sehari – harinya, bahas seru deh tuh mak sama anak. Bisa juga mak dengan ngajak anak ke kantor kita atawa pasangan kita maak, atau kalau kita punya toko, ajak anak nongkrongin toko kita mak, ngeliat kita kerja, jelaskan juga kita ini sedang ngapain. Lalu habis itu di rumah, bisa sharing seru bahwa kerjaan kita atawa orang – orang itu menyenangkan, serta bisa menghasilkan uang. Juga fahamkan ke anak mak, bahwa uang bisa didapat salah satunya dengan bekerja….

4. Latih skill delay gratification anak
Nah lho apa lagi neeh….. hehehe gitu kali ya mak yang ada dalam fikiran para emaks, soalnya saya juga gitu mak saat denger ini. Delay gratification adalah sebuah kemampuan agar anak mampu menunda kesenangannya sesaat untuk fokus dalam mencapai tujuan jangka panjang. Aplikasi delay gratification dalam konteks keuangan misalnya melatih anak-anak untuk tidak tergoda membeli es krim atawa jajan macem – macem saat ini, agar uangnya dapat ditabung untuk membeli barang yang dibutuhkan misalnya mainan kesukaan, tas sekolah, sepatu, dan sebagainya. Nah ini penting banget mah diasah, agar kelak dewasa mampu untuk menunda konsumsi saat ini untuk mencapai tujuan jangka panjang misalnya membeli rumah, menunaikan ibadah haji, dan sebagainya. Dalam konteks keagamaan misalnya menunda kesenangan duniawi untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki. Cara nya sih dari yang kita faham seperti menabung (tabungan saving sudah bisa sejak usia 3 tahun), nah juga dalam keseharian, seperti jika sudah dibuat aturan bahwa tv menyala hanya 1x seminggu, maka anak hanya boleh minta menyalakan tv kembali saat nya tiba. Walaupun anak menangis dan merengek, tetap mereka harus belajar mengelola dirinya bersabar menunggu sampai waktu menonton itu tiba, untuk kemampuan ini sangat dibutuhkan aturan yang jelas dan komitmen orang tua ya mak. Selain itu mak, agar anak mudah menguasai skill ini, maka pastikan balita mempunyai jadwal yang teratur, karena adanya kepastian, sehingga balita bisa mengukur waktu, misalnya jika kita membiasakan jalan – jalan sore atau anak main sepeda setelah anak makan dan mandi sore, maka pastikan anak selalu bisa jalan – jalan sore dan main sepeda setelah ia makan dan mandi sore. Skill delay gratification ini adalah sebuah kemampuan berproses, menikmati dan bersabar mengelola diri untuk bisa mencapai tujuan. Oleh sebab itu ini hanya bisa dikuasai jika sebagai emak, sebagai orang tua kita juga tau bagaimana caranya menikmati proses, bagaimana jadi orang ga gampang kepancing keadaan, melainkan memiliki visi dan tujuan. Kemampuan ini juga mak, yang menjelaskan kenapa ada orang yang ga pernah bisa nabung, atau kenapa ada orang yang ga pernah mencapai mimpi.

5. Ajarkan anak memahami apa – apa saja hal yang merupakan kebutuhannya, dan apa saja hal yang hanya merupakan keinginannya
Pemahaman tentang need dan want ini sudah bisa ya mak di kenalkan di usia 1 tahun, dengan mengajarkan mereka apa saja kebutuhan mereka,(Baca tulisan sebelummya ya mak), karena itu mak sangat dibutuhkan aturan prilaku yang jelas mak, satu aturan untuk satu kondisi, dengan memahami mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, sebenarnya mereka sedang belajar apa yang dibutuhkan dan apa yang bisa ditunda dilakukan. Need dan want untuk anak balita bukan saja mengenai benda, melainkan mengenai prilaku yang dibutuhkan, maupun pemikiran yang dibutuhkan. Contoh anak menangis karena tidak mau makan, maka ajarkan bahwa makan itu kebutuhan, sedangkan menangis hanya keinginan saja, maka kita bisa mengajak mereka untuk menunda tangisnya setelah makan, atau ajak anak berpikir kenapa harus menangis , apa sebabnya, perlukah ia menangis?. Oia mak cara diatas bisa dilakukan kalo emak sering melakukan attachment sama anak, hingga TRUST anak ke emak dapet. emak juga harus pastikan kebutuhan dasar anak, seperti makan, tidur, lelahnya, perhatian dan ngobrol serta main dengan mereka terpenuhi.

**** Emaks yang mau baca serie lainnya, biar ga ketinggalan tulisan maupun videonya ataupun diskusinya bisa gabung di grup FESTRO (Forum Emak Setrong) sebuah forum diskusi untuk gerakan KELUARGA SADAR PENGASUHAN KEUANGAN

Serie Pengasuhan Keuangan Vol.5
by ; Indah Hendrasari
#FESTRO
#Mandirifinansial
#Pengasuhan_Keuangan

Leave a Reply

Close Menu