KOMUNIKASI DALAM PARENTING

By : Indah Hendrasari

Didunia ini satu – satunya pekerjaan yang tidak ada sekolahnya, tidak ada ijazahnya tetapi memiliki resiko besar, paling menantang, tidak dibayar, jarang mendapatkan penghargaan atau ucapan terima kasih serta berdampak pada akhirat adalah menjadi orangtua. Nah karena belum ada sekolahnya, maka banyak orangtua yang ngawur dan salah dalam mengasuh serta mendidik anaknya, kita analogikan sebuah profesi lain seperti dokter misalnya; bayangkan jika ada seorang yang tidak pernah sekolah kedokteran tetapi menjadi dokter, ditambah lagi tidak pernah belajar ilmu kedokteran, maka sudah bisa ditebak betapa salah kaprahnya orang itu dalam melayani pasien. gitu juga dalam menjadi orang tua, menguasai parenting menjadi elemen wajib yang harus dikuasai Parenting adalah ilmu tentang mengasuh, mendidik dan membimbing anak dengan benar dan tepat

Dalam Parenting masalah terbesar yang sering dihadapi adalah KOMUNIKASI,

Jika kita lihat dan baca dalam kehidupan dan berita – berita, betapa didapati banyak anak – anak yang bermasalah, anak – anak “nakal” dan susah diatur, anak – anak yang bagaikan “monster” dalam keluarga, dan rumah tangga yang tidak harmonis serta “berantakan”, semua itu jika diusut maka akan berakar dari sebuah komunikasi. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan, komunikasi dapat dikatakan sukses jika pesan sampai dan diterima dengan benar sehingga komunikasi bersifat produktif. Sebuah komunikasi produktif mengandung formula ;

  1. High Energy
    Sebuah komunikasi produktif mampu memberikan high energy, ini merupakan modal awalnya, karena betapa banyak sebuah komunikasi menjadi destruktif disebabkan tidak adanya high energy melainkan high bad emotion
  2. Positive body langguage
    Keberhasilan sebuah komunikasi produktif adalah body langguge yang sesuai. Tatapan mata, nada suara, ekspresi wajah menentukan keberhasilan pesan itu.
  3. Transfer of feeling
    Komunikasi produktif meliputi proses transfer perasaan, dimana kita selalu menggunakan level suara perut. berbeda dengan komunikasi desdruktif yang fokus dalam transfer of anger
  4. Strategy
    Komunikasi produktif memerlukan strategi, bagaimana cara menyampaikan pesan secara tepat. Berkomunikasi dengan anak – anak melibatkan pertukaran kata – kata, gagasan dan perasaan, kita berkomunikasi dengan wajah (cemberut atau tersenyum), dengan tindakan (tamparan atau pelukan), dengan diam ( hangat atau dingin), juga dengan kata – kata ( ramah atau ketus). Penyampaian pesan yang salah terhadap anak tidak hanya sekedar membuat anak tidak mengenal dirinya (dimana kemampuan mengenal diri ini penentu self esteem seorang manusia), tetapi juga sangat berpengaruh membentuk karakter anak, dimana ini akan berdampak pada anak dalam mengenal nilai – nilai kehidupannya baik dalam pergaulannya, pendidikannya bahkan juga agamanya (baca ; tauhidnya).

Jadi bagaimana caranya agar pesan yang kita sampaikan kepada anak itu tidak gagal?

  1. Jangan bicara tergesa-gesa
    Siapa yang tidak pernah merasa bahwa waktu “sempit” atau “sedikit”? Tapi bicara tergesa-gesa akan membuat pesan yang kita sampaikan gagal diterima otak anak. So, please… Hindari bicara tergesa-gesa, apalagi sambil marah-marah dengan muka garang tanpa senyum. Berhenti sejenak sebelum bicara. Pikirkan sejenak masalah siapa ini? Need or want?. Bahkan jika bisa, cobalah tersenyum. Senyum dapat mengaktifkan hormon seretonin yang membuat kita merasa senang. Ingat, jika perasaan senang, otak bisa menyerap lebih banyak! 😀 Selain itu, perhatikan dengan siapa kita bicara, apakah laki-laki atau perempuan. Otak laki-laki dan perempuan berbeda, termasuk halnya dalam komunikasi. Ketika kita berkomunikasi dengan putra, suami, atau siapapun yang berjenis kelamin laki-laki, gunakan kalimat pendek-pendek yang berisi 15 kata.
    Ingat: untuk laki-laki, gunakan: 15 kata, kemudian berhenti, 15 kata, kemudian berhenti, dst
    sebanyak pesan yang ingin kita sampaikan.
  2. Ingat: Setiap pribadi unik
    Hargai setiap pribadi lawan bicara kita. Allah yang telah menciptakan setiap manusia unik dan berbeda-beda (lihat QS 3:6), maka jangan samakan dirinya dengan kita apalagi orang lain.
  3. Kenali diri sendiri dan anak
    Mungkin sebagian besar dari kita banyak yang terjebak dalam rutinitas sehari-hari, sehingga lupa untuk melihat ke dalam diri kita sendiri atau look in (siapa kita, apa kebutuhan kita, apa tujuan kita, dsb). Jika kita tidak mengenali diri, maka akan sulit menentukan mana yang kebutuhan dan mana yang kemauan. Jika kita tidak bisa mengenali diri sendiri, lalu bagaimana kita dapat mengenal anak atau orang lain ?  Karena itu, ambillah waktu untuk mengenali diri sendiri dan anak atau siapapun orang terdekat kita. Dengan lebih mengenal anak, akan lebih mudah kita berkomunikasi dengannya. Sisihkan waktu tertentu untuk bisa berduaan hanya dengan anak kita. Atau, cara sederhana lainnya, buat daftar atau tabel kelemahan dan kelebihan anak kita. Selanjutnya, dorong kelebihannya (bahkan puji ia dengan kelebihannya), dan cari solusi bersama anak untuk menangani kelemahannya.
  4. Pahami perbedaan needs dan wants
    Setiap pribadi unik, begitu juga dengan kebutuhan (needs) dan kemauan (wants) -nya. Bedakan kebutuhan dan kemauan kita dengan anak. Misalnya, anak mau bermain terus, namun ia butuh mandi atau makan. Coba pahami kemauannya, selami dunianya, baru kemudian beritahu anak apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhannya.
  5. Pahami “Masalah Siapa?”
    Siapa yang sebenarnya memiliki masalah? Anak atau kita? Kadang, kita mencampurkan masalah kita dengan anak, atau masalah anak dengan kita. Misalnya, anak ketinggalan PRnya di rumah. Masalah siapa ini? Kita atau anak? Apakah kita perlu mengirimkan PRnya ke sekolah? Atau mengajarkan anak untuk menerima kosekuensi, misalnya di-setrap, akibat ketinggalan PRnya sendiri? Sebelum berkomunikasi, analisa siapakah yang bermasalah? Apakah perlu dibantu atau tidak? Ketika anak dihadapkan pada suatu masalah, ini adalah kesempatan anak untuk berpikir, memilih, dan mengambil keputusan (BMM). Jika anak dibimbing untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan, ia akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab.
    Orangtua bukanlah “super problem solver”.
    Kita tidak mungkin akan selamanya mendampingi anak, ia akan tumbuh besar dan akan tiba waktunya meninggalkan kita. Maka, penting baginya untuk belajar kemandirian, memilih, mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalahnya sendiri.
  6. Baca bahasa tubuh
    Bahasa tubuh lebih nyaring dari kata-kata. Dalam komunikasi 55% berisi bahasa tubuh, 38% nada suara dan sisanya hanya 7% yang ditentukan oleh kata-kata. Karena itu, bahasa tubuh tidak pernah bohong. Baca bahasa tubuh anak untuk mengerti apa yang ia rasakan.
  7. Dengarkan perasaan
    Masih ingat kan ya? komunikasi produktif itu ialah perasaan. Maka cobalah dengar perasaannya dengan menebak apa yang sedang ia rasakan dari bahasa tubuhnya. Misalnya, “Adik sedang kesal/marah/jengkel ya?”, “Adik sedih ya karna mainnanya hilang?”. Dengan menerima perasaan anak, anak mau membuka diri, mengeluarkan emosi dan masalahnya. Dengan mengetahui apa masalahnya, kita dapat membantu anak untuk menyelesaikan masalah tersebut.
  8. Dengarkan dengan aktif
    Jadilah cermin ketika anak bercerita tentang masalahnya. Tunggu dan eksplore perasaannya hingga tuntas, dan berikan respons yang sesuai seperti, “Oooh.. Begitu ya?” “Terus?” “Kamu kesal sekali ya?”. Jadilah “got” bagi emosinya. Jika emosinya sudah mengalir, maka korteks otaknya siap bekerja. Selanjutnya, anak akan lebih mudah menerima informasi dan pesan dari kita.
  9. Hindari 12 gaya populer
    Mungkin sebagian besar dari kita sudah sering mendengar tentang 12 gaya populer (parenthogenic). Tanpa kita sadari, secara turun temurun 12 gaya komunikasi ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Ketika anak sedang atau tidak bermasalah pun, jika kita sering meresponnya dengan menggunakan 12 gaya populer ini, anak akan merasa tidak percaya dengan emosi atau perasaannya sendiri. Padahal sangat penting bagi anak untuk belajar percaya dengan perasaannya dan dirinya, hal tersebut akan mendukung perkembangan emosinya dan mendorong anak tumbuh menjadi percaya diri. Jika perkembangan emosi anak baik, ia juga akan memiliki kontrol diri yang baik ketika menghadapi suatu masalah, bahkan ia akan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.
    Berikut ialah contoh-contoh 12 gaya populer:

  • Memerintah, contoh: “Mama tidak mau dengar alasan kamu, sekarang masuk kamar dan bereskan kamarmu!”
  • Menyalahkan, contoh: Ketika anak tidak bisa mengerjakan soal PRnya, ayah berkata, “Tuh kan. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah dan malas belajar”
  • Meremehkan, contoh: “Masak pakai sepatu sendiri saja tidak bisa, bisanya apa dong Kak?”
  • Membandingkan, contoh: “Kok kamu diminta naik ke panggung saja tidak mau sih Kak, tuh lihat Andi saja mau”
  • Memberi cap, contoh:”Dasar anak bodoh, disuruh beli ini saja salah!”
  • Mengancam, contoh: “Kalau kamu tidak mau makan lagi, kamu tidak akan dapat uang jajan selama seminggu!”
  • Menasehati, contoh: “Makanya, kalau mau makan cuci tangannya dulu, nak… Tangan kan kotor banyak kumannya…”
  • Membohongi, contoh: “Disuntik tidak sakit kok nak, seperti digigit semut aja kok”
  • Menghibur, contoh: Ketika adik menemukan bahwa es krim nya dimakan oleh kakaknya tanpa sepengetahuannya, bunda berkata, “Sudah ya sayang, besok bunda belikan lagi es krimnya, lebih enak dari yang dimakan kakak tadi”
  • Mengeritik, contoh: “Lihat tuh! Masak mengepel masih kotor dimana-mana begitu. Mengepelnya yang benar dong!”
  • Menyindir, contoh: “Hmmm… Pintar ya? Sudah mandi, sekarang main tanah dan pasir lagi”
  • Menganalisa, contoh: “Kalau begitu, yang mengambil bukumu bukan temanmu, mungkin kamu tinggalkan di tempat lain…”

10. Gunakan “Pesan Saya”
Jika kita yang memiliki masalah terhadap anak, gunakanlah “pesan saya” atau “i-message” yaitu dengan:
“Ayah/Ibu merasa …. (isi perasaan kita) Kalau kamu …. (isi perilaku anak) Karena… (isi konsekuensi terhadap diri sendiri/orangtua/orang lain”
Contoh: “Ayah merasa marah kalau kamu tidak mendengarkan ayah bicara karena itu membuat ayah merasa tidak berharga“.
“Pesan saya” memisahkan antara masalah dengan diri anak. Bedakan dengan “pesan kamu”.
Pesan kamu menggunakan kamu (yaitu anak) sebagai subjek masalah misalnya, “Kamu tidak pernah mendengarkan ayah!“.
Dalam “pesan kamu”, anak tidak bisa membedakan mana masalahnya dan mana dirinya. Hal tersebut jika terus menerus dapat melemahkan konsep diri anak.

Nah jika anak telah berhasil menangkap pesan orangtua dan bertindak sesuai dengan apa yang orangtua harapkan, maka berikan hak mereka yaitu penghargaan sewajarnya, meskipun itu berupa pujian ataupun belaian.

#onedayonepost
#100thdayschallenge
#Myhomeparenting
#AMU_Alummu_Almadrosatul_Ula

Leave a Reply

Close Menu