Kasih Sayang Sogokan

“Kasih Sayang Sogokan”

Pengasuhan keuangan vol. 10
by ; Indah Hendrasari

Warning : Ini tulisan terpanjang di antara volume pengasuhan keuangan lainnya, karena menyangkut value keuangan, baca perlahan ya mak, kunyah slowly mak, hati –hati kesedak.
”Ayah itu udah capek banting tulang, peras keringat, jadi kamu jangan buat pusing”.
“Demi kamu papa mati – matian cari uang”.
“Dulu bapak hidupnya susah, makanya bapak janji kamu ga boleh susah juga”.
“ Biar abi aja yang pusing mikirin biaya, kamu ga usah ikutan pusing?.
“Kamu harus bisa banggain papi, biar papi yang urus semua (keuangan) nya”…..

Familiar dengan kata – kata diatas mak?
Sebuah pernyataan yang sangat mendarah daging dalam budaya pengasuhan kita ya mak.
Apakah ada yang salah mak???
Mungkin mak akan berkata, kayaknya biasa aja, apa masalahnya? kan bener semua yang di katakan itu?.
Bener mak, kalo kita liatnya hanya dari satu sisi yaitu sisi bapak (karena yang banyak ngomong gini, biasanya para bapaknya anak – anak). Tapi gimana dari sisi si anak mak?? apakah anak akan menganggap persis seperti yang ayah maksudkan mak? atau anak malah berpikiran sebaliknya?. Sadar ga mak kalau kata – kata diatas polanya sama yaitu : 

“MENYATAKAN BAHWA SEMUA INI UNTUK KEPENTINGAN BAPAK BUKAN KEPENTINGAN ANAK, BAHWA BAPAK YANG WAJIB MIKIRIN SEMUA, ANAK TAU BERES AJA, ANAK CUKUP NGANDELIN ORANG TUA AJA, GA USAH REPOT –REPOT MENJADI DIRI YANG MANDIRI.

Bahasa yang digunakan selalu membuat ujung pernyataan yang sama, bahwa semua proses perjuangan para bapak ini, bukan dalam rangka berjuang untuk keluarga, melainkan untuk kepentingan bapak atawa orang tua. Masih ragu atawa bingung mak? sini biar dijembrengin analisanya :

1. ”Ayah itu udah capek banting tulang, peras keringat, jadi kamu jangan buat pusing”
Kalimat ini sering banget, jadi andelan para ayah, agar anak memahami kelelahan ayah, hingga ayah ga punya waktu untuk anak, ayah berharap dengan ngomong gini anak jadi faham, bahwa ayah itu sedang berjuang setengah mati, demi keluarga, maka tolong fahamilah ayahmu yang lelah ini, tapi dari sisi anak justru akan menangkap hal yang berbeda.

Why???

>>> karena ini sering di ungkapkan ayah, ketika ceramah atawa sedang kesal karena anaknya berulah (biasanya karena minta perhatian)

jadilah anak akan menangkap pesan bahwa ; ayah ga punya waktu untukku, karena harus bekerja keras, oleh sebab itu ayah mengorbankan waktunya untukku, Maka sebagai hadiahnya ayah wajib memenuhi semua keinginanku, aku ga mau tau, karena bukan kah ayah gila – gilaan kerja gini, untukku, maka aku akan melakukan apa saja karena akan ada ayah yang memenuhinya…. #NYESEK
Jelas disini bahwa ayah tanpa sadar menyogok anaknya untuk memberikan kasih sayang kepada ayahnya yaitu berupa pengertian, padahal anak sejak lahir itu sejatinya sudah sangat pengertian, hanya saja mereka belum faham cara menggunakan ilmu pengertian itu, maka yang dibutuhkan anak hanyalah bagaimana caranya.

2. “Demi kamu papa mati – matian cari uang”.
Ini juga kalimat pamungkas papa, jika papa merasa tersudut, dan biasanya dalam keadaan anak ga mau dengerin omongan si papa, harapan si papa, anak menjadi sadar diri, karena papa adalah pahlawan yang harus di hormati, bayangin aja papa mati – matian lho.

Cuman tersampaikankah harapan si papa?

sayang sekali belum tentu, sebab papa menyampaikannya di kondisi sama – sama tertekan, papa tertekan karena merasa anak tak menghargainya, hingga perlu menyebut – nyebut jasanya, serta anak pun tak kalah tertekan, karena merasa di “TEKAN” oleh si papa. Sebab papa menekan anak, bahwa gara – gara anak, papa harus menderita, bayangin aja sampai membuat papa nya di taraf mati – matian.

Lha kalo memang anak merasa begitu, kenapa ga langsung nurut??

Masalahnya si anak baru belajar jadi manusia, dia aja belum pengalaman mengelola dirinya, lha masih di tekan untuk mengertiin papa nya, yang nota bene sudah puluhan kali lipat umurnya serta pengalamannya jadi manusia. Jadi sebenarnya apa sih pesan yang ditangkap si anak saat papa ngomong gini??

>>> Dengan pernyataan ini, lama – lama anak jadi menerima pembenaran, bahwa kehadiran papa ke dunia ini sebagai pencari uang saja, misi terbesar papa di terjukan ALLAH ke dunia ini sebagai mesin atm keluarga , lha bukannya papa sudah membranding dirinya begitu?….#NGILU

Makanya ga usah heran kalau value ini selalu tertanam kuat di budaya masyarakat kita, bahwa papa sebuah mesin uang, bukan seorang imam keluarga yang qowwam (mau lengkapnya, baca serie qowwam ya, cukup search aja dengan #serieqowwam)

3. “Dulu bapak hidupnya susah, makanya bapak janji kamu ga boleh susah juga”

Ini adalah kalimat para bapak, yang merasa punya masa kecil suram, lalu berjuang dalam kehidupannya, kemudian merasa cukup sukses sekarang, hingga mengambil kesimpulan untuk membangun keluarga yang bebas dari kesusahan, termasuk anaknya ga boleh menapaki tangga – tangga kesusahan itu. Niatnya seh baik, biar anaknya hidup stabil, karena mungkin selama menjalani kesusahannya itu dulu, bapak merasa sering tergoncang, terluka dan berdarah – darah, dia ga rela keturunannya merasa begitu. Kalo kata Robert T kiyosaki, ini mental bapak miskin banget.

Why ???
Karena langsung menjudge keadaan, sang bapak tidak mengambil ibroh dalam perjalanan kesusahannya, maka tipe bapak gini adalah tipe pendendam, bapak dendam dengan taqdir kesusahannya, hingga berjanji anaknya ga boleh gitu. Padahal kalau mau dirunut, bapaknya bisa di tangga sukses saat ini, karena kesusahan itu, bukan abrakadabra, harusnya si bapak bisa memetakan, lalu melist apa – apa saja yang harus di waspadai anak agar tidak susah, bukannya membungkus anak dengan kesenangan…

Apa value keuangan yang akan tertanam dalam diri anak >>> Anak bebas mengerogoti sang bapak seumur hidupnya, anak ga perlu mikirin bapak atawa keluarganya, ga usah merasa perlu menjaga bapak nya kelak, ga perlu meneruskan perjuangan sang bapak, dan parahnya bapak adalah orang yang wajib menanggung hidupnya selamanya. Jadi ga usah heran, jika masih ada orang yang sudah sekolah tinggi, bahkan sampai S3, sudah kerja, bahkan sudah menikah dan punya anak, tapi masih nadah sama orangtuanya, bukannya menganggarkan pos rutin bulanan untuk di kirim ke orang tua, tetapi malah, masih minta – minta……#MIRIS

4. “ Biar abi aja yang pusing mikirin biaya, kamu ga usah ikutan pusing?
Ini setali tiga uang sebenarnya dengan pernyataan diatas, berharap menjadi abi yang bijak, tetapi malah tanpa sadar menanamkan kepada anak, value berikut >>> Kamu ga usah tau apa kebutuhanmu, tinggal jalani aja hidupmu, ga perlu kamu capek – capek berjuang untuk hidupmu, biarlah abi yang menanggungnya, membuat anak menjadi malas berusaha, tak pernah punya mimpi, dan membiarkan hidupnya mengalir bagaikan air…

Ciri khas filosofinya adalah “mimpi ga usah ketinggian, nanti kalo jatuh sakit”

Padahal kan manusia itu butuh harapan sebagai perisai jiwa, bukankah kita rela melakukan banyak hal di kehidupan di dunia ini, demi sebuah harapan agar kelak kehidupan kita lebih baik, puncaknya yaitu masuk syurga. Nah kalau sejak kecil anak diberangus untuk punya harapan, lalu bagaimana bisa anak survive menghadapi hidupnya??

5. “Kamu harus bisa banggain papi, biar papi yang urus semua (keuangan) nya”
Kalau ini biasanya andelan sang papi yang superior, berharap dengan begini anak menjadi lebih mawas diri, harapan papi adalah anak mengerti kalau dirinya adalah penerus sang papi yang hebat, oleh sebab itu jangan sampai anak menghancurkan apa yang sudah papi bangun.
Lalu bagaimana dari sisi anak ???
Apakah anak menangkap pesan yang sama, hingga tercapai value keuangan yang sama??
Sayang sekali lagi sayang mak, anak tak menangkap itu, yang ada anak berpikir bahwa,

>>> anak adalah label jaminan sang papi, label yang bisa di jual sang papi, untuk menambah sederat prestasi sang papi, anak merasa dirinya bukan manusia yang bertanggung jawab terhadap dirinya, melainkan hanya untuk menyenangkan hidup sang papi, hingga anak akan menjalani hidup sesuai kemauan sang papi.

—————————————————————————–

Mak kita kan udah faham dalam ilmu berkomunikasi, antara dua fihak wajib dalam frekuensi yang sama, saya udah pernah mak nulisnya disini
https://web.facebook.com/indah.hendrasari/posts/1104024442951479?__tn__=K-R

Berikut mak langkah –langkahnya, agar tak terjebak dalam memberi anak kita sogokan, hanya untuk mendapatkan kasih sayangnya;

  1. Fokus aja mak sama pesan apa yang mau disampaikan
    Jika cuma mau pengertian anak karena kesibukan kita maka, pastikan anak faham apa kesibukan kita, dan mengapa kita harus melakukan semua itu dalam keluarga kami, tak pernah ada istilah – istilah diatas mak, kami tak pernah mengatakan bahwa bekerja untuk cari uang, dan memenuhi kebutuhan keluarga, karena kami tahu bahwa kami tak selamanya hidup, bagaimana jika kami meninggal lebih dulu, siapa yang akan memenuhi kebutuhan keluarga, maka kami lebih suka dengan mengajarkan anak bahwa memenuhi kebutuhan itu kewajiban semua anggota keluarga, artinya sebelum anak baligh (sampai usia 15 tahun) , tugas memenuhi kebutuhan masih sama ayah, tetapi setelah usia 16 tahun anak harus bisa hidup sendiri. Bukankah kesibukan kita tidak selamanya, jika mak memang benar- benar sibuk sepanjang waktu, berarti ada masalah dengan mental dan cara berpikir mak, sebab orang normal itu bisa membagi dirinya dengan baik, kesibukan itu memang terencana, artinya jika memang ada kesibukan yang datang bergelombang, mereka faham bagaimana menyiasatinya. cari inti masalahnya, jika ayah memang sibuk karena kurangnya skill, maka ayah wajib mematangkan skill, lalu cari peran ayah pengganti, agar anak tak kehilangan figur ayah. Jika ayah lelah karena fisik, ga ada salahnya ayah mengagendakan olah fisik, ajak serta anaknya,
  2. Ajarkan anak mengenal dirinya
    Banyak orang tua yang bertanya kepada saya, apa yang duluan untuk di ajarin kepada anak, maka jawaban saya adalah ajarkan anak mengenal dirinya. Dimulai dari mengenal namanya, nama tuhannya, nama nabinya, nama orang tuanya, nama agamanya, nama kitab sucinya. kemudian mengenal apa aja yang ada pada dirinya secara fisik, agar ia bisa merawatnya, setelah itu kenalkan ia dengan apa yang ia suka dan apa yang ia tidak suka, kebiasaan baik apa yang dimilikinya, apa saja hambatan – hambatan dirinya dalam menerapkan kebiasaan baik itu. Lanjut dengan mengenal lingkungan rumahnya, apa tugas dan haknya sebagai anggota keluarga, perjuangkan apa yang harus ia pikul dalam mencapai visi keluarga. Next kenalkan ia dengan potensi kekuatannya, apa potensi kelemahannya, bagaimana cara nya agar anak bisa mensiasati itu dsb. Perlu satu volume sendiri saya membahas ini ya mak..

    eits tapi kalo mau lengkap mak ada di buku saya Bab IV Petakan potensi dan manajemen karir, kalau emak penasaran bisa klik link ini mak 
    http://bit.ly/Infopemesanbukupengasuhankeuangan

  3. Latih anak menghargai dirinya
    Jika anak sudah mengenal dirinya, maka ajarkan anak untuk menghargai dirinya, dengan cara mengenalkan mimpi dan harapan, apa tujuan serta misi kehadirannya kedunia ini. Peran terbesar apa yang ingin ia lakukan, agar ia bisa terus mensyukuri setiap potensi yang sudah ALLAH amanahkan kepadanya. Seperti biasa mak, mohon maaf jika ada yang kurang berkenan mak, juga kalo ngerasa kurang sreg.

Makasih mak, masih terus baca sampe habis, terus pantengin tulisan saya yang lainnya ya mak, buat yang copas silahkan aja mak, tapi cantumin nama saya ya mak, bagusnya lagi seh mak, kalo emak pada ngeshare….

**** Emaks yang mau baca serie lainnya, biar ga ketinggalan tulisan maupun videonya ataupun diskusinya bisa gabung di grup FESTRO (Forum Emak Setrong) sebuah forum diskusi untuk gerakan KELUARGA SADAR PENGASUHAN KEUANGAN silahkan mak klin dan join link ini https://web.facebook.com/groups/268417350634496/

Serie Pengasuhan Keuangan Vol.10
by ; Indah Hendrasari
#FESTRO
#Mandirifinansial
#Pengasuhan_Keuangan

Leave a Reply

Close Menu