Hemat ga jadi kaya

“Hemat tidakjadi kaya”

Pengasuhan keuangan vol. 8
by Indah Hendrasari

Mak masih inget ga sama pepatah legendaris ini “Hemat pangkal kaya” , salah satu pepatah paling diinget zaman sekolahan, waktu itu kan mak saya yakin banget sama pepatah ini mak, tetapi sekarang kok saya jadi ragu ya mak???.
Ragunya itu mak, beneran apa enggak seh neh pepatah? soalnya mak saya pernah kenal beberapa orang yang hidupnya hemat tapi saya liat dia ga kaya-kaya, gitu juga dengan guru saya yang ngajarin pepatah itu, sampe sekarang ga kaya – kaya juga mak, terus saya liat dong mak kawan – kawan seangkatan saya (seluruh indonesia) yang belajar pepatah ini juga, kebanyakan ga kaya – kaya, kalo gitu maka ada yang salah dong ya mak dengan pepatah ini. Dulu saya ga mudeng dengan pernyataan ini, tetapi setelah saya mendalami pengasuhan keuangan, saya baru faham kenapa mereka ga kaya – kaya. Ternyata permasalahan pertamanya mak di pemahaman hemat itu mak ( ini udah saya bahas ya mak, di volume 7 ; emak cap pelit) >>> https://indahhendrasari.com/emak-cap-pelit/

Nah sekarang kita lanjut ke permasalahan selanjutnya mak. Seinget saya mak dari kecil dulu diajarin, untuk ga boleh boros, harus hidup prihatin (sampe sini sih bagus mak) cuman abis itu ga ada kelanjutannya lagi, ga pernah faham yang mana masuk kategori boros, mana masuk kategori hemat. Taunya mak, dari dulu orang tua selalu ngajarin anak – anak nabung dulu sebelum membeli sesuatu, (ini ga salah memang) malahan memang harus begitu, cuman masalahnya pemahaman nabung dulunya ga lanjut lagi, cuma sampe nabung baru beli sesuatu TITIK, ga pernah di ajarin beli barang apa aja yang mesti nabung dulu, mana barang yang ga perlu di beli sama sekali hingga kamu jangan pernah menabung untuk itu. Kita cuma dijejelin bahwa : 

 APAPUN YANG KAMU MAU MAKA NABUNGLAH DULU, KALAU UDAH ADA UANGNYA MAKA BELILAH APA YANG KAMU INGINKAN ITU.

 Ini lah yang akhirnya membuat mental kita KONSUMTIF,sebab kita dilatih untuk menunda kesenangan sesaat yang ujungnya TETEP KONSUMTIF, sebab kita cuma tau MENABUNG KONSUMTIF, dan ga pernah ada yang ngajarin MENABUNG PRODUKTF….. #NGILU.
Jadi ga usah heran kalo ada orang yang ngerasa dirinya sudah berhemat tapi masih kejebak hutang, Padahal kan logikanya kalau beneran dia hemat ga mungkin dia berhutang, sebab definisi hemat adalah efisiensi. Kalo dia sampe berhutang, maka ia bisa jadi bukan hemat, melainkan pelit. Terus mak dari kecil, kita ga pernah dijabarin apa itu hidup prihatin itu, wal hasil kita taunya terjebak dengan persepsi prihatin itu sendiri, alih – alih pengen HEMAT, yang ada malah kita terjebak prilaku PELIT, yang buat hidup kita sulit, masih ditambah hutang melilit, ujung – ujungnya pailit, kitapun akhirnya sakit  #MIRIS.
Jadi apa dong yang musti kita lakuin, agar ga sampe salah menerapkan pepatah itu, dan biar generasi selanjutnya nasibnya ga kayak kita. Sebelumnya kita fahami dulu definisi kaya dulu ya makk. Persepsi kita pastinya beda – beda kan mak mengenai kaya ini, nah biar sama frekuensinya, maka kita ngulik dulu makna kaya ;

  • Kata Forbes >>> kaya itu ; memiliki penghasilan $1.000.000 pertahun (kaliin aja mak kalo di rupiahin sekarang)
  • Kata Robert T. Kiyosaki >>> kaya itu ; kalau kita mampu bertahan dengan gaya hidup yang sama tanpa perlu bekerja

maksudnya mak, saat ini biaya hidup keluarga emak 15jt sebulan, terus nanti kalo si bapak atau emak ga kerja lagi, maka emak sekeluarga tetep bisa hidup dengan biaya yang sama, artinya mak walaupun bapak atawa emak ga kerja lagi, penghasilan ga berkurang mak, jadi nanti pas pensiun ga hidup di bawah biaya 15 juta itu mak.

Lha gimana bisa kalo ga kerja, tapi biaya tetep sama?…

gitu kali ya emak pada mikirnya, jawabannya ya udah jelas mak, yaitu HARUS PUNYA PASSIVE INCOME, ingetkan mak rumusnya? kalo lupa mak rumusnya, saran saya baca lagi pengasuhan keuangan vol 1 ye mak. >>> https://indahhendrasari.com/pengasuhan-keuangan/

Balik lagi ke makna kaya, kalo ngikutin forbes makna kaya nya, jelas banget ye mak, kita ini masih jauh, Jadi saya lebih milih katanya Robert T kiyosaki. Nah supaya kita beneran bisa kaya seperti makna yang di bilang Robert T kiyosaki, maka apa dong yang harus kita lakukan;

1. Fahami bahwa yang namanya kaya itu adalah mentalitas
Yup mak, kaya itu berkaitan dengan mindset mak, kita bedah mak. Ketika membaca pernyataan Robert T.kiyosaki itu apa yang duluan emak pikir ? Mungkinkah bisa hidup dengan biaya sama padahal udah ga kerja? atau udah langsung ambil corat coret untuk mulai memetakan perputaran uang itu, hingga bisa menghasilkan passive income yang jumlahnya sama dengan active income?. 

Mental kaya mak akan mengambil keputusan kedua,

karena mereka tipe ga suka menunggu, sadar bahwa hidup mereka adalah tanggung jawab mereka, tidak menyerahkan kepada keadaan mak, (bukan berarti menghilangkan unsur tawakal ya mak, ini lain lagi bahasannya mak). Kalo mental miskin, belum mulai udah pesimis duluan, langsung pasrah, dan pake andelan “biarlah miskin , yang penting bahagia”, atau “buat apa kaya kalau hidup ga tenang”. Padahal mak itu adalah persepsi yang keliru, kalo orang kaya udah pasti aja hatinya tenang, karena ia punya hati lapang, pemikiran rasional serta sejuta strategi menghadapi permasalahan hidup mereka. Orang kaya sudah pasti saja bahagia, karena mereka punya perencanaan matang, ga ngaruh apa kata orang, pantang baperan, memilih berdamai dengan hari – hari sulit mereka, kemudian melompat ketika mereka sudah menguasai keadaan, tak membiarkan keadaan yang menguasai mereka, dengan perencanaan, mereka memiliki skala prioritas, dan yang paling membahagiakannya, daya manfaat mereka luar biasa, banyak banget orang tertolong dengan kehadiran mereka.

Prinsip mereka mak 》》》》 jikalau saat ini mereka sedang tak punya uang, maka orang kaya akan berpikir ini sementara, habis itu mereka akan mutar otak untuk mendapatkannya, setelah dapat mereka akan berpikir untuk mengembang biakannya, dengan menginvestasikan ke tempat yang aman, bagi mereka waktu adalah kekayaan sesungguhnya, makanya mereka ga suka menyiakan waktu, tahu bahwa umur sebentar, meyakini bahwa harus ada warisan yang ditinggalkannya, bagaimana orang mengingatnya kelak, bagaimana kontribusi kehadirannya di muka bumi ini. Sedangkan orang miskin jika tak punya uang, maka akan putar otak untuk mendapatkan uang, begitu sudah ada uang akan segera berpikir bagaimana menghabiskannya, barang apa lagi yang harus dibeli, fokus menikmati uang yang sudah didapati, mereka berpikir bahwa sudah lelah bekerja cari uang, maka wajar jika menikmatinya, mengenai investasi boro – boro, perencanaan keuangan aja mungkin tak ada, jika ada hanya untuk hari ini saja, dalam benak mereka, mencari uang saja dengan bekerja, memenuhi kebutuhan sendiri, jika ada lebih baru bantu orang. Orang miskin merasa bahwa ngurus diri mereka aja repot, ngapain repot harus mikirin orang lain, yang penting bisa mencukupi diri sendiri, menuntut orang memahami kesusahan mereka dan yang paling miris, kehadiran mereka ada atawa tiadanya, ga ada ngaruhnya buat orang lain.
Nah faham kan mak, mengapa kaya itu mentalitas???….

2. Olah Perputaran Uang Anda
Mana yang lebih mudah, mencari uang Rp 1000 atau menghemat uang Rp 1000, tentu saja emak akan menjawab menghemat Rp 1000. Sampai pernyataan ini mungkin amak akan faham makna hemat itu, ini memang sesuai pernyataan pepatah, hemat pangkal kaya. Tapi habis itu apalagi kelanjutannya?. Ini yang ga pernah di bahas lagi oleh guru kita, oleh orang tua kita dulu. Bahwa mencapai kekayaan itu ga cukup sampai ini aja, melainkan ada 2 unsur yang meliputi yaitu ;

  •  Perkecil Pengeluaran

Sebesar apapun penghasilan kita jika berbanding lurus dengan pengeluaran kita, tetep aja itu namanya boros mak, dan boros adalah ciri khas kemiskinan mak, apalagi jika pengeluaran lebih besar dari penghasilan, atawa istilah kerennya besar pasak daripada tiang, waah mak itu mak neraka keuangan, kacau banget. Apalagi jika sampai berhutang untuk menutupinya, BIG NO banget mak. Emak hanya boleh berhutang jika ada fihak lain yang bayarin hutang itu, serta hutang itu dalam rangka aset ya mak, bukan liabilitas (lain kali saya bahas ye mak). Gimana biar pengeluaran lebih kecil dari penghasilan???…

  1. pertama mak ; sederhanakan pengeluaran, untuk yang ini kayaknya ga perlu saya tulis ya mak, secara emak – emak jago banget masalah beginian… intinya seh mak, kita tau mana pengeluaran wajib kudu musti, mana pengeluaran bisa di tunda dulu, serta mana pengeluaran yang sama sekali ga perlu.
  2. Kedua mak ; Menunda kesenangan. Ada beberapa caranya mak, seperti ;

Prinsip hanya akan bersenang – senang jika passive income cukup untuk barang konsumsi, jika harga konsumsi itu Rp 2.000.000,- maka kita akan menunggu hingga penghasilan dari laba usaha kita yang lain mencapai itu. prinsip lainnya yaitu menunggu sampai punya uang 10x lipat dari harga barang konsumsi, jika barang konsumsi Rp 2.000.000,- maka tunggulah sampai emak punya uang mencapai 2.000.000 x 10 = 20.000.000, baru beli barang tersebut.

  • Perbesar Passive Income

Ini bahasannya lumayan juga mak, intinya mak, jangan biarkan penghasilan kita cuma satu pintu (active income), melainkan harus banyak pintu, caranya gimana, saya bahas di tema passive income kedepannya ya mak.

3. Kawal Keuangan Keluarga dengan Visi Misi Keluarga

“Anda tidak akan pernah mendapatkan apa yang anda inginkan, jikalau anda sendiri ga tau apa yang anda inginkan” (Quote)

Saya tipe paling cerewet untuk mengingatkan orang tua akan visi misi keluarga, yang semua tertuang detail dalam tujuan pengasuhan, why ???
Jawabannya ada di quote yang saya tulis diatas mak, makanya saya suka heran sama orang tua, yang kepusingan sama masalah keluarganya, pas ditanya punya tujuan pengasuhan, mereka jawab enggak, pas di saranin mereka kayak percaya ga percaya, merasa tujuan pengasuhan itu lelucon. Padahal pan mak, ibarat kata rumah tangga itu perjalanan, maka jika kita tak tau kemana tujuan kita, maka otomatis kita akan tesesat, tujuan pengasuhan itu ibarat peta kita dalam menjalankan roda keluarga, memuat step by step, tahun demi tahun rencana perjalanan keluarga kita. Makanya ciri khas emak – emak yang ga punya tujuan pengasuhan, adalah gampang banget terbius isu, sering kena serangan tsunami informasi, ikutan parenting cuma ikut – ikutan, dateng ke seminar dengan pikiran kosong, ga tau disana apa yang mau di ambil, wal hasil pulang seminar bukannya tambah terang solusi, malah makin mumet, terakhir ekstrim ambil keputusan yaitu ga perlu parenting sana sini sebab bukannya bikin hati lapang malah tambah was-was.
iya langsung ngeblame ke parentingnya, padahal seh karena ga tau apa yang mau di ambil dari ikut parenting itu, nah kalo kita udah punya tujuan pengasuhan, akan berhemat jauh banget, kita hanya akan mengikuti parenting yang sesuai tujuan pengasuhan kita, bukan karena harga, jika memang harga mahal cuma jika di butuhkan, maka kita tak akan ragu mengikutinya. Dengan tujuan pengasuhan kita tahu apa yang akan dikembangkan saat ini, mana batas toleransi kita, mana yang wajib saat ini juga…

4. Asah Skill Spending Desicion Anda
Tau ga mak, kenapa orang kaya semakin kaya, dan orang miskin semakin miskin?. Selain mentalisnya mak, juga pengetahuannya terhadap bagaimana mengeluarkan uang itu mak, makanya mak spending desicion ini duluan kami ajarin mak di keluarga kami (baca vol 2 dan vol 3 ya mak). https://indahhendrasari.com/mengasuh-anak-sd-mampu-berinfaq-jutaan-rupiah/ dan https://indahhendrasari.com/melatih-anak-spending-decision/ 

Bagaimana bisa kita mengasah spending desicion ini ?

Cukup panjang seh ini mak bahasannya, tapi yang pertama yang harus dikuasai adalah need vs want mak. Emak harus handal mengetahui mana aja pengeluaran yang berupa kebutuhan (need), dan mana pengeluaran yang berupa want (keinginan).

Cara gampang bedainnya mak.

  • Need / kebutuhan itu punya ciri – ciri berikut mak >>> Something basic and must have alias kalo ga ada bisa mati kita mak.
  • Want / keinginan cirinya mak >>> Something that you would like to have and make you feel good if you have it alias kalo ga ada sekarang ga bakal bikin kita mati…..

Lebih lengkapnya satu volume sendiri ye mak.

5. Jangan suka menabung.
Whatttt???? Maksudnya apa neh, mungkin gitu emak mikirnya ya. Bener mak 

kata Robert T kiyosaki orang yang suka nabung itu pecundang…

Kok bisa????
Lebih lengkapnya nanti ada volume tersendiri ya mak. Mak sebenarnya masih banyak lagi bahasannya, tetapi panjang banget kalau saya tulis, nanti saya pecah satu persatu aja mak. Sementara emak paham kan dulu ini, kenapa orang yang ngerasa katanya hemat, tapi ga jadi kaya. Kenapa pepatah ini ga bergigi dalam membangun mental kita, memang mak banyak PR dalam pendidikan bangsa ini, kita terbiasa belajar cuma selesai sampai kulit, padahal setelah kulit masih banyak lagi bagian lainnya. Oia mak lucunya lagi, para sarjana ekonomi kita yang nota bene katanya ahli tentang ekonomi juga ga kaya – kaya mak hehehe.

Karena kata Robert T kiyosaki mak, mengerti ekonomi itu ga berarti kamu punya kemampuan keuangan yang baik

IQ keuangan itu memang harus dilatih, serta latihannya ga bisa abrakadraba mak, melainkan berproses. Demikian dulu ya mak, mohon maaf ye mak, kalau ada salah-salah kata. Makasih mak, masih terus baca sampe habis, terus pantengin tulisan saya yang lainnya ya mak, buat yang copas silahkan aja mak, tapi cantumin nama saya ya mak, bagusnya lagi seh mak, kalo emak pada ngeshare.

**** Emaks yang mau baca serie lainnya, biar ga ketinggalan tulisan maupun videonya ataupun diskusinya bisa gabung di grup FESTRO (Forum Emak Setrong) sebuah forum diskusi untuk gerakan : 

 KELUARGA SADAR PENGASUHAN KEUANGAN

Serie Pengasuhan Keuangan Vol.8
by ; Indah Hendrasari

#FESTRO
#Mandirifinansial
#Pengasuhan_Keuanga

Leave a Reply

Close Menu