“Belajar Bebas Ala Finlandia”

Salah satu hal yang sangat populer di tanah air saat berbicara tentang Finlandia adalah betapa Siswa Finlandia bebas belajar. Siswa bebas menentukan apa yang ingin mereka pelajari dan apa yang ingin mereka kuasai. Persis seperti Anda, benak saya pun sudah dengan se gudang pertanyaan yang siap dicarikan jawabannya.

Bagaimanakah maksud bebas belajar itu?
Apakah maksudnya anak-anak dibiarkan berbuat sesuka hatinya di Finlandia?
Lalu bagaimana cara Sekolah meramu semua itu?

Kenapa sudah lelah saya googling tapi tak ada referensi membahas tentang ini, kebanyakan tulisan hanya menulis tentang hal umum dan bagus-bagus saja, saking bagusnya jadi mumet untuk mengadopsinya hehehe ada yang samaan?..Oleh sebab itu begitu menginjakkan kaki ke Finlandia, saya tidak menyia –nyiakan kesempatan. Saya banyak observasi, masuk kelas, wawancara semua pihak (mulai kepala sekolah, guru, konselor, psikolog, tenaga sosial, orangtua siswa sampai siswa nya langsung). Saya lakukan agar mendapat gambaran utuh, agar kepingan – kepingan puzzle itu menjadi jelas.

Oke balik ke tema kita.
Sebelum menilik bagaimana gaya bebas belajar nya ala Finlandia, mari kita pahami bersama dahulu bagaimana kultur kebiasaan anak – anak Finlandia menjalani aktivitas. Karena rasanya tak elok jika melihat sesuatu tidak dari semua sisi. Di Finlandia itu pemandangan anak – anak beraktivitas tanpa pengawasan orang dewasa merupakan hal lumrah. Betapa umumnya disana anak – anak yang menginjak usia sekolah, pulang pergi sendirimain-main sendiri di jalan, pergi ke taman sendirimain didaerah sekitaran rumah sendiribegitu pun di rumah sendiri menunggu orangtua pulang kerja, juga ke perpustakaan atau pun pergi ke club belajar sendiriAnak berjalan sendiri tanpa pengawalan orang dewasa, bahkan sampai langit gelap menjadi hal wajar saja. Entah karena baru pulang ekskul atau pun baru pulang dari mengasah hobi di youth house yang jam tutup nya pukul 9 malam atau mungkin dari suatu tempat aktivitasnya yang lain.

Mulai bergidik ya bayangin nya….
Terbayang tidak shock nya saya pas ketemu seorang anak mungkin kisaran umur 7 – 8 tahun begitu jalan sendirian gelap dan sepi, cuman ada kami (dan ini tidak bakal saya terapkan kepada anak saya di Indonesia saat ini, entah kalau kedepan nya, berharap boleh kan). Tapi ini adalah budaya pengasuhan Finlandia, betapa kemandirian anak itu disiapkan oleh satu negara. Betapa tidak, keamanan dan ketertiban publik itu terjaga, tata kota nya pun memang mendukung anak melakukan semua sendiri. Sarana publik mudah di akses dan saling ter koneksi, satu zona itu lengkap ada semua sarananya. Bahkan, sampai administrasi anak pun terekam baik. Jika pagi ini anak Anda sakit dan dirawat oleh perawat sekolah untuk P3K nya, maka saat sore Anda bawa anak ke dokter, Anda tak perlu menjelaskan lagi karena dokter bisa melihat data kesehatan anak Anda, apa saja treatment yang sudah di dapati anak Anda.semuanya  sangat – sangat sistematis dan terkoneksi. 

Begitu pun saat anak Anda masuk sekolah, misalnya sekarang anak Anda sudah tamat TK mau masuk SD, maka Anda tak perlu repot mengirimkan tetek bengek administrasi tentang anak Anda. Karena secara otomatis Guru TK anak Anda sudah menginput sampai mana progres anak Anda dan segala serba serbi anak Anda. hingga Guru SD anak Anda tinggal merekapnya saja, dari situ Guru SD ini mendapat gambaran tentang anak Anda. Hingga saat awal masuk sekolah Guru SD hanya tinggal mengakrabkan diri dengan anak Anda karena semua data anak Anda sudah mereka dapati.

Kenapa mereka sampai segitu kerennya ya?
Ya karena melahirkan individu yang mandiri adalah target utama pengasuhan Finlandia, maka budaya mereka menekankan ini harus ditanamkan sedini mungkin.

Udah CLEAR ya kenapa anak dan orangtua Finlandia itu bisa begitu sikapnya seperti yang saya tulis di Volume 1Volume 2Volume 3.

Nah karena sudah budaya, maka anak bangun pagi bersiap sendiri termasuk meracik makan sendiri. kadang orangtua Finlandia, terutama yang pendatang masih sibuk atau bahkan belum bangun karena kelelahan bekerja, serta berangkat sekolah sendiri bukan hal yang asing. 

Mulai geleng-geleng terbayang di sini, anak – anak mau sekolah orangtua yang pontang panting, bahkan tak sedikit orangtua yang menyuapkan anaknya sarapan agar cepat berangkat hingga tak telat. Sebagai gambaran orangtua Finlandia banyak yang pekerja, mereka baru pulang kerja pukul 5 sore, sedangkan anak – anak bisa pulang pukul 12 siang atau pun pukul 3 siang tergantung jam berapa mulai belajar. Dan jam sekolah di Finlandia itu tidak tetap setiap harinya. Bisa mulai jam 08.00 wib, tapi besoknya bisa pukul 10.00 wib. Alasannya bisa macam – macam, salah satunya adalah kesepakatan bersama.

Saya teringat memori masih kecil dahulu anak awal 80-an masih merasakan kayak anak Finlandia begini, habis subuh ke mesjid lanjut mandi, makan, dan bersiap sendiri tanpa di tuntun orangtua. Lalu ambil sepeda dan jemput teman-teman, bahkan ajang jemput dulu-duluan ini jadi saat yang sangat dinantikan. Sekolah Cuma 2-3 jam. banyak waktu main, sekolah juga cuma belajar ini budi doang (yang paling diingat, maafkeun guruku)

Jakarta waktu itu masih banyak tanah lapang, kemana – mana sendiri, asal berantem ancaman nya di tunggu di lapangan benteng. Masih banyak pohon kecapi,
pulang sekolah sering mungutin rambutan dan buah kecapi yang cara bukanya jepit di pintu, kenapa jadi nostalgia ya… 

Kembali ke tema ya…

Setelah dapat gambaran keseharian anak – anak Finlandia saya yakin Anda mulai bisa meraba makna bebas belajar disana, betapa kemandirian itu melahirkan karakter bertanggung jawab. Nah terbayang kan, manusia jika sudah bertanggung jawab di kasih kebebasan menentukan maka hasilnya akan beda dengan manusia yang belum duduk makna tanggung jawab pribadi ketika diberi pilihan kebebasan. Jadi, tidak usah bingung saat dinyatakan bahwa anak kelas 1 SD di Finlandia menentukan kurikulum sendiri. bahwa masing – masing anak mendapatkan kurikulum nya sendiri. 

Kebebasan belajar anak Finlandia sudah di mulai dari rumah juga dari lingkungan. Bahkan jika anak Anda sakit bawa ke dokter anak, maka dokter anak akan menjelaskan penyakit serta pengobatannya kepada anak bukan kepada Anda. Di jalan Anda tak perlu khawatir karena aparat, masyarakat akan memperlakukan anak Anda layaknya manusia yang mandiri. Sangat kecil kemungkinan anak Anda akan disalip antrian nya saat belanja di I******e* atau pun sarana publik lainnya meski dia sendirian tanpa pendampingan Anda.

Sekolah tinggal menguatkan saja kemandirian ini, maka slogan – slogan kebebasan belajar ala Finlandia ini jadi relevan jika menilik pada fakta bagaimana negara hadir dalam mempercayakan seorang anak.

Nah dengan self-esteem yang sudah terbentuk kuat selama 7 tahun itu, kemudian anak Anda masuk sekolah, dimana semua pihak sekolah sudah tahu gambaran anak Anda, sudah memetakan bagaimana kelak akan memperlakukan serta mengembangkan anak Anda. Maka kebayangkan bagaimana “Bebas Belajar ala Finlandia” ini sangat terarah. Ditambah para pelaku sekolah adalah pihak –pihak yang terdiri dari berbagai bidang mulai pendidik, tenaga kesehatan, konselor rumah tangga, psikolog, terapis, juga tenaga sosial semua tersedia bebas tanpa batas di sekolah, tanpa dana tambahan. (karena semua di cover negara)

Bahkan jika anak Anda ABK dan butuh penanganan khusus maka sekolah akan mencarinya, jika mentok sekolah akan melaporkan ke pemerintah daerah. maka satu daerah akan bahu membahu mencarikan guru terbaik untuk anak ABK Anda… 

So, pajak tinggi bahkan ada yang sampai 60% pun menjadi make sense….

————–Bersambung ke part 2————–

Bincang Pendidikan vol.4
By : Indah Hendrasari

#Inspirasi_indah
#bincangpendidikan
#Finlandia
#Kemandirian_anak
#Bebasbelajar
#BelajaralaFinlandia