Ada apa dengan Guru Finlandia part 1 Serie : Bincang Pendidikan Vol.2 By : Indah Hendrasari

Bincang Pendidikan
Ada Apa dengan Guru Finlandia

Baiklah kita lanjut lagi ya ngulik tentang Finlandia

Kalau sebelumnya kita sudah memahami bagaimana cara Finlandia membuat sistem pendidikan yang unik (Sekolah santai, Target tinggi), kini giliran guru – guru Finlandia yang jadi bahasan tema kita.

Eits saya tidak akan bahas cerita guru Finland itu minimal lulusan Master. Untuk bisa tembus masuk jurusan keguruan Anda harus bersaing dengan ratusan ribu orang dikarenakan jumlah keguruan di Finlandia itu terbatas. Guru disana hari – hari nya selalu melakukan penelitian. Anda jadi mahasiswa keguruan jangan harap bisa bertahan kalau tidak suka meneliti dan menulis, juga saya tidak akan membicarakan bahwa guru merupakan salah satu profesi bergengsi disana ya, kalau hal ini mah sudah banyak yang bahas. Tetapi saya mau gali dari sisi lainnya. (khas saya gali dari sisi yang tidak umum orang gali )

Yaitu bagaimana cara para guru Finlandia ini bisa membuat Target Pembelajaran mereka tuntas..

Anda tidak usah bengong begitu, saya yang pertama datang ke Finlandia juga terkejut saat mengetahui bahwa di Finlandia juga harus ada ketuntasan minimal, meski mereka bungkus dengan istilah lain. Tapi jangan pikir cara mereka mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) itu sama kayak kita di sini ya, jauh panggang dari api lah.

seperti di tulisan sebelumnya bahwa Finlandia itu punya target pembelajaran tinggi, hanya saja mereka tak akan memberikan beban berat itu sekaligus ke pundak siswa mereka. Hebatnya dari guru Finlandia, mereka membuat beban berat itu menjadi ringan dan cara mereka melakukan ini sangat didukung penuh oleh orang tua Finlandia. Makanya hampir tidak ada orangtua yang ribut karena merasa materi pembelajaran anaknya terlalu ringan. Karena mereka tahu bahwa guru anaknya punya sistematika sendiri dalam mengajar anaknya, dan itu dihargai. Bahkan negara memberikan kebebasan kepada setiap sekolah untuk membuat sistem sendiri yang sesuai dengan visi misi sekolahnya. Negara hanya memastikan setiap sekolah mengikuti grand plan kurikulum saja. Maka tak heran kurikulum setiap sekolah bisa beda-beda tergantung tujuan sekolah itu didirikan serta kebutuhan Siswa di sekolah itu, tetapi tetap dalam Frame Work Pendidikan Nasional yang sama.

Oke kita balik lagi ke tema, Saat di suruh memilih masuk ke kelas mana, maka saya memilih masuk kelas lower. Karena untuk kelas Upper saya akan mewawancarai anak – anak nya saja biar lebih nyata. Untuk anak – anak SD saya memilih mengobrol langsung dengan Kepala sekolah, guru –guru dan orangtua siswa. dan untuk SD informasi yang saya dapat komplit karena saya masuk juga ke kelas nya.

Di Finlandia tidak usah bingung jika ada satu ruangan untuk ngopi bareng  yang mana ruangan itu akan berisi para guru (yang sedang tidak mengajar), orangtua (baik yang sengaja datang maupun kebetulan berkunjung, termasuk Orangtua alumni),  serta para praktisi untuk ngobrolin perkembangan apapun. Apakah itu perkembangan diri, hobi, bikin acara bareng,kekeluargaan banget lah. Tapi jangan bayangi Anda bisa nanya-nanya perkembangan anak Anda disini ya. Guru Finland tak akan melayani Anda, mereka menyediakan waktu khusus jika Anda mau membahas perkembangan anak Anda. Tapi kalau bahas perkembangan pendidikan atau pun kemajuan teknologi, inspirasi kehidupan Anda bakal disambut hangat (ingat di Finlandia guru adalah profesi, emang Anda bisa nanya-nanya perkembangan penyakit anak Anda kepada dokter anak Anda di tempat umum bukan di ruang konsul?)

Butuh satu negara untuk mendidik seorang anak bukan hanya jargon kosong di Finlandia. Mereka komitmen melakukan itu, hingga tugas Guru itu sangat – sangat fokus hanya mencari metode pengajaran terbaik untuk siswa nya. Menjadi guru di Finland rasanya profesi syurgawi bagi orang yang sangat concern di dunia pendidikan, karena memang di dukung dan di apresiasi.

Teringat negaraku. saat Covid melanda, bukannya saling bergandengan tangan tapi ramai – ramai banyak pihak yang menyudutkan sekolah. bahkan para pemangku kebijakan pun menyiratkan sikap mengkerdilkan maksud sekolah, ahhhh entahlah…

Seperti yang saya singgung di postingan sebelum ini, bagi yang belum baca silahkan klik di sini

Finlandia menerapkan kelas damai, dimana semua elemen sekolah  (tidak hanya Guru)  wajib membuat kelas menjadi damai. Makna damai disini beneran damai yaitu sangat tenang. Tidak terburu-buru melakukan kegiatan. Beda banget dengan Indonesia yang banyak menerapkan gaya belajar yang terlalu berisik.

Jika selama ini kita mengenal istilah Active Learning, maka Finlandia juga menerapkannya hanya saja penerapannya berbeda. Secara panduan active learning kita American Style, dimana guru diminta sedikit bicara dan mengajak anak-anak untuk aktif berinteraksi dan berpendapat (dimana kita dapati kelas – kelas riuh karena anak-anak saling berbicara untuk mengolah informasi materi).

Finlandia menerapkan Active Learning dengan cara yang tenang tapi merdeka. Anda tak bisa asal menyela guru sampai diijinkan bicara.  Ada adab penuntut ilmu di situ, jika Anda penganut bahwa hubungan guru dan siswa itu harus bebas (baca bablas) maka Anda akan kecewa kalau ke Finlandia. Karena Finlandia menganut hubungan hangat menghormati antara siswa dan guru. Active Learning ala Finlandia adalah anak belajar aktif dalam koridor tanggung jawab serta kemandirian pribadi. Jadi bukan asal aktif saja melainkan ada adab penuntut ilmu di situ. 

Kembali ke kelas yang damai, Finlandia sangat menyukai ketenangan. Karena mereka sadar bahwa kebahagian bisa di capai jika kita tenang menjalani hari. Oleh karena itu guru bisa menegur siswa yang tak menghargainya mengajar dan biasanya siswa tidak akan melakukan ini sebab ia tahu sikapnya yang tidak menghargai guru tidak bisa di terima di kultur budayanya. Lalu jika siswa tak boleh bising dalam hal menyerap informasi materi. bagaimana siswa bisa menyerap ilmu, bagaimana Thinking Skill bisa di asah? Itu juga yang menjadi pertanyaan saya.

Ternyata cara nya mudah saja..
Di kelas di sediakan sudut khusus  untuk siswa berdiskusi atau pun menuangkan ide, hingga tidak menganggu kawan-kawannya yang lain. Nah salah satu kunci keberhasilan dari kelas damai Finlandia adalah 2 bulan di awal itu saat mereka sama-sama menentukan apa, bagaimana, seperti apa ragam aktivitas, kenapa tentang kelas mereka. Di waktu 2 bulan itu mereka memahami garis-garis besar Study Plan mereka. bagaimana cara  mereka berkomunikasi, cara berinteraksi serta cara-cara mencapai solusi bersama jika ada masalah, bahkan mereka ada parameter kebisingan dan parameter masalah. Hingga dengan kewenangan yang sangat besar diberikan kepada guru. Membuat guru nyaman dan menjadi tuan atas pekerjaannya. Hasilnya manusia jika di apresiasi bagus, maka mereka akan melesat fokus untuk menggapai keberhasilan.

Beda jauh kalau kita lihat harga diri para guru di negara tercinta ini. Anggapan bahwa guru harus menyelesaikan semua masalah anak  sendirian, membuat anak berhasil sendirian, belum lagi setumpuk adminitrasi yang harus dikerjakan sendirian, ditambah gaji yang tak seberapa membuat mereka harus jungkir balik memikirkan kesejahteraan diri sendirian. Maka terbayang lah, manusia yang sudah lelah, lonely serta sedikit apresiasi ini berjuang menggarap project besar yaitu Mendidik Penerus Bangsa. Maka kira –kira seperti apa ya hasilnya.

Setiap kelas di Finlandia mempunyai mimpi kelas yang harus di wujudkan oleh semua elemen kelas termasuk  orangtua, jadi anggapan bahwa project anak biar saja anak yang jumpalitan sendiri atau mengambil alih semua project anak hingga jadi project total Orangtua, hampir tidak akan anda dapati di Finlandi. Sebab saat Sekolah menentukan sebuah program yang akan di ikuti anak – anak, contohnya Pentas Seni. Saat akan ada Pentas Seni maka tugas guru adalah bekerja sama dengan siswa untuk menghasilkan keputusan bersama. pentas seni seperti apa yang akan mereka tampilkan. Setelah didapat, maka orangtua akan diberitahu.

Nah disini keren nya, mereka akan lakukan hal – hal yang diperlukan untuk mensukseskan acara ini. Jika ternyata acara ini butuh biaya untuk menyelenggarakan nya sedangkan dana sekolah tidak meng-cover, maka para Orangtua akan bahu membahu menolong. Paling tidak membuka rekening donasi untuk acara ini. Tidak akan didapati orangtua yang menganggap sekolah duit-duit melulu. Karena mereka sadar bahwa memang itu yang di butuhkan sekolah. Padahal di Finlandia sekolahnya uang dari pemerintah. Pengelola tidak pusing memikirkan muter uang sekolahnya. 

Ya Allah saya tuh nyesek, kebayang di Indonesia jika ada program sekolah. Betapa banyak orangtua yang mengedepankan dzhon duluan dibanding support, yang mirisnya betapa banyak orangtua alih-alih mendukung malah menggugat sekolah yang minta di support.

Wah yang profesi nya Guru saya yakin saat ini sedang berkata “enaknya, begitu memang harusnya guru itu”, tapi….

Ini belum seberapa, di Finlandia Anda tidak akan mendapati guru yang mengantar anak – anaknya sampai keluar ruangan. ya anak –anak Finlandia terbiasa mandiri bahkan sejak usia dini, ini wajar mengingat kejahatan di Finlandia sangat minim. Saya terkejut saat masih gelap mendapati anak kecil jalan sendirian. Tidak terbayang kalau saya lakukan di Indonesia (yang pastinya tidak akan saya lakukan). Anak-anak sejak sedini mungkin merasa bertanggung jawab dengan diri mereka sendiri. Mereka tidak menggantungkan diri mereka pada orang lain termasuk pada guru mereka. ini pun akan membuat  guru punya waktu lebih untuk diri mereka. Guru punya waktu melakukan evaluasi dan perencanaan pembelajaran yang lebih terinci dan terdata.

 Ya… bagi Finlandia guru adalah profesi yang diakui keprofesionalannya. maka ada kode etik, ada apresiasi, juga ada dukungan terhadap profesi  ini. maka tak heran Pendidikan mereka maju pesat. Yang cukup unik dan mungkin akan membuat kita orang – orang Indonesia geleng- geleng adalah betapa tidak mudahnya orangtua menghubungi guru jika tidak melalui jalur sekolah.

Maka Anda jangan pernah berpikir bisa melakukan hal berikut disana :

  • Mendapatkan nomor telpon  guru dengan mudah.
  • Sekalipun Anda dapat jangan berpikir bisa menghubungi sesuka hati.
  • Jika Anda japri guru sesuka hati, bersiap jika Anda tidak dilayani.
  • Tidak ada WhatsApp Group.
  • Jangan bayangi  guru-guru kirim foto anak.
  • Maka jika Anda berharap guru mengirim foto anak sedang belajar atau pun beraktivitas. Maka sampai memutih pun Anda menunggu, mereka enggan melakukannya.
  • Apalagi kalau ada mau protes kenapa foto anak Anda tak pernah tayang. Bakal jadi pelototan orang – orang sekitar Anda (Privacy itu utama, khas negara maju).
  • Selain jam yang sudah di tentukan guru susah ditelepon.
  • Jika ingin bertemu dengan Guru harus memakai perjanjian, tidak bisa asal bikin janji.
  • Maka Jangan pernah berharap Anda main selonong boys datang ke sekolah minta hari itu juga ketemu dengan guru anak Anda tanpa janji sebelumnya. Meski mau kiamat rasanya sebab mendengar anak Anda baru berantem dengan temannya.
  • Dst yang kalau saya jemberengin bakal jadi satu Vol. tersendiri.

Gimana cukup gelengkan?

Saat mengobrol dengan orangtua – orangtua dari Indonesia, hal ini yang menjadi paling mengganjal buat mereka saat menjalani pendidikan di Finlandia. Banyak yang bingung, gemes tapi pasrah, ya mau bagaimana lagi negeri orang kan, wajib patuh sajalah. Mungkin Anda mulai berpikir kenapa segitu nya banget ya Finlandia memperlakukan guru mereka.

Tapi tahukah Anda?

Saat Guru dihargai, maka tanpa sadar kita memberikan pendidikan terbaik kepada anak. Alih-alih menyalahkan guru. jika target pembelajaran tidak tercapai, maka orangtua memilih bekerja sama dengan guru untuk mensupport  anak menyelesaikan tugasnya. maka apa hasilnya?

Ya benar seperti dugaan Anda, bahwa anak akan merasa bahwa mencapai target adalah tanggung jawab mereka, bukan beban mereka, sikap positif Anda menguatkan anak untuk berani mengambil tanggung jawab itu menjadi tanggung jawab pribadi mereka. Jadi wajar kolaborasi dukungan orangtua dan guru ini mampu menempah mental anak menjadi pemenang tanpa persaingan.

siapa bilang siswa Finlandia tidak kompetitif?

Mereka sangat kompetitif, tetapi bukan atas dari bersaing dengan orang lain, melainkan mereka selalu menjadi terbaik untuk diri mereka sendiri. Mereka sadar harus “breaking limit” diri mereka sendiri jika ingin berhasil mencapai tujuan.

Jadi ada apa dengan Guru di Finlandia? Ikuti Volume selanjutnya

—Bersambung—

Serie : Bincang Pendidikan vol 2
By Indah Hendrasari                
#Inspirasi_indah
#bincangpendidikan
#Finlandia
#Adab-menentukan-amal
#GuruFinlandia

Leave a Reply

Close Menu